Showing posts with label Penyakit Menular. Show all posts
Showing posts with label Penyakit Menular. Show all posts

Pemberantasan Vektor DBD


Pemberantasan vektor dapat dilakukan terhadap nyamuk dewasa dan jentiknya. Menurut Soedamo (2005) jenis kegiatan pemberantasan nyamuk penularan DBD meliputi:

Pemberantasan Nyamuk Dewasa

Pemberantasan terhadap nyamuk dewasa, dilakukan dengan cara penyemprotan (pengasapan/fogging) dengan insektisida. Hal ini dilakukan mengingat kebiasaan nyamuk yang hinggap pada benda-benda tergantung, karena itu tidak dilakukan penyemprotan di dinding rumah seperti pada pemberantasan nyamuk penular malaria. Insektisida yang dapat digunakan adalah insektisida golongan organophosphat, misalnya malathion, fenitrothion, dan pyretroid, sintetik misalnya lambda sihalotrin dan permetin (Soedamo, 2005).

Penyemprotan insektisida ini dalam waktu singkat dapat membatasi penularan, akan tetapi tindakan ini perlu diikuti dengan pemberantasan jentiknya agar populasi nyamuk penular tetap dapat ditekan serendah-rendahnya. Sehingga apabila ada penderita DBD tidak dapat menular kepada orang lain (Soedamo, 2005).

Pemberantasan Larva (Jentik)

Pemberantasan terhadap jentik  Aedes aegypti yang dikenal dengan istilah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dilakukan dengan cara (Depkes RI, 2005):
a.  Kimia, yaitu dengan cara memberantas jentik  Aedes aegypti dengan menggunakan insektisida pembasmi jentik (larvasida). Ini dikenal dengan istilah larvasidasi. Larvasida yang biasa digunakan adalah  temephos. Formulasi temephos yang digunakan adalah  granules (sand granules). Dosis yang digunakan 1 ppm atau 10 gr (� 1 sendok makan rata) untuk setiap 100 liter air. Larvasida dengan temephos ini mempunyai efek residu 3 bulan. Selain itu dapat pula digunakan golonga insect growth regulator.
b.  Biologi, yaitu dengan memelihara ikan pemakan larva yaitu ikan nila merah (Oreochromosis niloticus gambusia sp.), ikan guppy (Poecillia reticulata), dan ikan grass carp (Etenopharyngodonidla). Selain itu dapat digunakan pula Bacillus Thuringiensis var Israeliensis (BTI) atau golongan insect growth regulator.
c.  Fisik, yaitu dengan kegiatan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur). Menguras bak mandi, bak WC, menutup tempat penampungan air rumah tangga (tempayan, drum dll), mengubur atau memusnahkan barang-barang bekas (kaleng, ban dll). Pengurasan tempat-tempat penampungan air perlu dilakukan secara teratur sekurang-kurangnya seminggu sekali agar nyamuk tidak dapat berkembang biak di tempat itu.

Apabila PSN ini dilaksanakan oleh seluruh masyarakat maka diharapkan nyamuk Aedes aegypti dapat dikurangi sehingga tidak menyebabkan penularan penyakit. Untuk itu diperlukan usaha penyuluhan dan motivasi kepada masyarakat secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, karena keberadaan jentik nyamuk tersebut berkaitan erat dengan perilaku masyarakat (Depkes RI, 2005).

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penularan DBD


Lingkungan

Lingkungan merupakan tempat interaksi vektor penular penyakit DBD dengan manusia yang dapat mengakibatkan terjadinya penyakit DBD. Hal-hal yang diperhatikan di lingkungan yang berkaitan dengan vektor penularan DBD antara lain:
a.  Sumber air yang digunakan
Air yang digunakan dan tidak berhubungan langsung dengan tanah merupakan tempat perindukan yang potensial bagi vektor DBD.
b.  Kualitas Tempat Penampungan Air (TPA)
Tempat penampungan air yang berjentik lebih besar kemungkinan terjadinya DBD dibandingkan dengan tempat penampungan air yang tidak berjentik.
c.  Kebersihan lingkungan
Kebersihan lingkungan dari kaleng/ban bekas, tempurung, dan lain-lain juga merupakan faktor terbesar terjadinya DBD (Soegijanto, 2006).

Pengetahuan dan Sikap Masyarakat

Analisis dari Green yang dikutip Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa kesehatan dipengaruhi oleh dua faktor pokok yaitu, faktor perilaku (behaviour causes) dan faktor non perilaku (non behaviour causes). Sedangkan perilaku itu sendiri, khusus perilaku kesehatan dipengaruhi atau ditentukan oleh 3 (tiga) faktor yakni:
a.  Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yaitu terwujud dalam pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang.
b.  Faktor-faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik.
c.  Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan dan petugas-petugas lainnya termasuk di dalamnya keluarga dan teman sebaya.

Green kemudian berkesimpulan bahwa setiap perilaku kesehatan dapat dilihat sebagai fungsi dari pengaruh kolektif ketiga faktor. Gagasan penyebab kolektif itu penting terutama karena perilaku merupakan suatu fenomena yang majemuk.

Kriteria Kerja KLB (Kejadian Luar Biasa)

1. Definisi KLB

KLB sama dengan wabah adalah terjadinya sejumlah kasus penyakit, yang diketahui atau diduga disebabkan oleh infeksi atau infestasi parasit yang melampau jumlah wajar atau yang tidak selayaknya ada ditempat atau pada waktu tertentu. Yang membedakan antara KLB dan wabah yaitu KLB tanpa ada pernyataan dari Menteri Kesehatan

2. Kriteria Kerja KLB:
  • Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada/tidak dikenal
  • Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, minggu)
  • Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali atau lebih dibanding dengan periode sebelumnya (jam, hari, minggu, bulan, tahun)
  • Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata-rata perbulan dalam tahun sebelumnya
  • Angka rata-rata perbulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan dua  kali lipat atau lebih dibanding dengan angka rata-rata perbulan dari tahun sebelumnya.
  • CFR dari suatu penyakit dalam suatu kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50 % atau lebih dibanding dengan CFR dari periode sebelumnya.
  • Proportional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunjukkan kenaikan dua kali atau  lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu/tahun sebelumnya
  • Beberapa penyakit khusus: cholera, DHF/DSS: 
    • Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
    • Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4 minggu sebelumnya daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
  • Beberapa penyakit yang dialami 1 atau lebih penderita:
    • Keracunan makanan
    • Keracunan Pestisida

Kriteria kerja untuk penentuan Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti tersebut diatas sebagai pedoman untuk pelaksanaan tugas.

ACHMAD AMRULLAH, SKM.
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Faktor-Faktor Resiko Tuberkulosis (TB Paru - TBC)


A. USIA

Dari hasil penelitian yang dilaksanakan di New York pada Panti penampungan orang-orang gelandangan menunjukkan bahwa kemungkinan mendapat infeksi tuberkulosis aktif meningkat secara bermakna sesuai dengan umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda. Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif yaitu 15-50 tahun.

B. JENIS KELAMIN

Di benua Afrika banyak tuberkulosis terutama menyerang laki-laki. Pada tahun 1996 jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan jumlah
penderita TB Paru pada wanita, yaitu 42,34% pada laki-laki dan 28,9 % pada wanita. Antara tahun 1985-1987 penderita TB paru laki-laki cenderung meningkat sebanyak 2,5%, sedangkan penderita TB Paru pada wanita menurun 0,7%. TB paru lebih banyak terjadi pada laki-laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru dimana Kebiasaan merokok meningkatkan resiko untuk terkena TB paru sebanyak 2,2 kali.

C. PENYAKIT PENYERTA

Umumnya penderita TB dalam keadaan malnutrisi dengan berat badan sekitar 30-50 kg atau indeks masa tubuh kurang dari 18,5 pada orang dewasa. Sementara berat badan yang lebih kecil 85% dari berat badan ideal kemungkinan mendapat TB adalah 14 kali lebih besar dibandingkan dengan berat badan normal. Ini yang menjadi pemikiran bahwa malnutrisi atau penurunan berat badan telah menjadi faktor utama peningkatan resiko TB menjadi aktif. Pola makan orang Indonesia yang hampir 70% karbohidrat dan hanya 10% protein yang pada penyakit kronis selalu disertai dengan tidak selera makan, tidak mau makan, tidak bisa makan atau tidak mampu membeli makanan yang mempunyai kandungan gizi baik (kurang protein), sehingga penderita ini mempunyai status gizi yang buruk.

Selain faktor gizi, penyakit seperti Diabetes Mellitus (DM) dan infeksi HIV merupakan salah satu faktor risiko yang tidak berketergantungan untuk berkembangnya infeksi saluran napas bagian bawah. Prevalensi TB paru pada DM meningkat 20 kali dibanding non DM dan aktivitas kuman tuberkulosis meningkat 3 kali pada DM berat dibanding DM ringan.

Penderita Tuberkulosis menular (dengan sputum BTA positif) yang juga mengidap HIV merupakan penularan kuman tuberkulosis tertinggi. Tuberkulosis diketahui merupakan infeksi oportunistik yang paling sering ditemukan pada pasien dengan reaksi seropositif. Apabila seseorang dengan seropositif tertular kuman ini maka karena kekebalannya rendah, besar sekali kemungkinannya akan langsung menderita Tuberkulosis. Hal ini berbeda sekali dengan orang normal atau mereka dengan seronegatif, karena kuman ini yang masuk akan dihambat oleh reaksi imunitas yang ada dalam tubuhnya. Disamping itu penyakit tuberkulosis pada mereka dengan seropositif cepat berkembang kearah perburukan.

D. KEPADATAN HUNIAN DAN KONDISI RUMAH

Kepadatan penghuni merupakan suatu proses penularan penyakit. Semakin padat maka perpindahan penyakit, khususnya penyakit menular melalui udara akan semakin mudah dan cepat, apalagi terdapat anggota keluarga yang menderita TB dengan BTA positif. Kepadatan hunian ditempat tinggal penderita TB paru paling banyak adalah tingkat kepadatan rendah. Suhu didalam ruangan erat kaitannya dengan kepadatan hunian dan ventilasi rumah. Kondisi kepadatan hunian perumahan atau tempat tinggal lainnya seperti penginapan, panti-panti tempat penampungan akan besar pengaruhnya terhadap risiko penularan. Di daerah perkotaan (urban) yang lebih padat penderita TB lebih besar. Sebaliknya di daerah rural akan lebih kecil kemungkinannya.

Ventilasi cukup menjaga agar aliran udara di dalam rumah tetap segar, sehingga keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tetap terjaga. Ventilasi yang baik juga menjaga dalam kelembaban (humidity) yang optimum. Kelembaban yang optimal (sehat) adalah sekitar 40�70%. Kelembaban yang lebih Dari 70% akan berpengaruh terhadap kesehatan penghuni rumah. Kelembaban udara di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan penyerapan. Kelembaban Ills merupakan media yang baik untuk bakteri-bakteri patogen (penyebab penyakit).

Cahaya matahari cukup, tidak lebih dan tidak kurang, dimana cahaya matahari ini dapat diperoleh dari ventilasi maupun jendela/genting kaca. Suhu udara yang ideal dalam rumah antara 18-30�C. Suhu optimal pertumbuhan bakteri sangat bervariasi, Mycobacterium tuberculosis tumbuh optimal pada suhu 37�C. Paparan sinar matahari selama 5 menit dapat membunuh Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tahan hidup pada tempat gelap, sehingga perkembangbiakan bakteri lebih banyak di rumah yang gelap.

E. STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA

WHO tahun 2007 menyebutkan 90% penderita TB di dunia menyerang kelompok sosial ekonomi lemah atau miskin dan menurut Enarson TB merupakan penyakit terbanyak yang menyerang negara dengan penduduk berpenghasilan rendah. Sosial ekonomi yang rendah akan menyebabkan kondisi kepadatan hunian yang tinggi dan buruknya lingkungan, selain itu masalah kurang gizi dan rendahnya kemampuan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak juga menjadi problem bagi golongan sosial ekonomi rendah.

F. PERILAKU

Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan. Pengetahuan penderita TB Paru yang kurang tentang cara penularan, bahaya dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan prilaku sebagai orang sakit dan akhinya berakibat menjadi sumber penular bagi orang di sekelilingnya.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Diagnosis Tuberkulosis (TB Paru atau TBC) pada Anak


Diagnosis TB pada anak lebih sulit sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis baik overdiagnosis maupun underdiagnosis. Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu kriteria lain dengan menggunakan sistem skor.

Tabel 2. Sistem skor (scoring system) gejala dan pemeriksaan penunjang TB
Lanjutan:

Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah skor >6, harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan mendapat OAT. Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi pleura, foto tulang dan sendi, funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Diagnosis Tuberkulosis (TB Paru - TBC)


Untuk menegakkan diagnosis TB Paru perlu dilakukan beberapa pemeriksaan seperti: pemeriksaan klinis, pemeriksaan radiologik dan pemeriksaan laboratorium (mikrobiologik).

A. PEMERIKSAAN KLINIS

TB disebut juga The great immitator oleh karena gejalanya banyak mirip dengan penyakit lain. Pada pemeriksaan klinis dibagi atas pemeriksaan gejala klinis dan pemeriksaan jasmani.

1. Gejala klinis

Gejala-gejala klinis TB Paru dibagi menjadi 2 (dua) golongan yaitu:

a. Gejala respiratorik
- Batuk; merupakan gejala yang paling dini dan paling sering dikeluhkan. Batuk timbul oleh karena bronkus sudah terlibat. Batuk-batuk yang berlangsung = 3
minggu harus dipikirkan adanya tuberkulosis paru.
- Batuk darah; darah yang dikeluarkan dapat berupa garis-garis, bercak-bercak atau bahkan dalam jumlah banyak. Batuk darah dapat juga terjadi pada bronkiektasis dan tumor paru.
- Sesak napas; dijumpai jika proses penyakit sudah lanjut dan terdapat kerusakan paru yang cukup luas.
- Nyeri dada; timbul apabila sistem persarafan yang terdapat di pleura sudah terlibat.

b. Gejala sistemik
- Demam; merupakan gejala yang paling sering dijumpai, biasanya timbul pada sore dan malam hari.
- Gejala sistemik lain seperti keringat malam, anoreksia, malaise, berat badan menurun serta nafsu makan menurun.

2. Pemeriksaan Jasmani

Pemeriksaan jasmani sangat tergantung pada luas lesi dan kelainan struktural paru yang terinfeksi. Pada permulaan penyakit sulit didapatkan kelainan pada pemeriksaan jasmani. Suara atau bising napas abnormal dapat berupa suara bronkial, amforik, ronki basah, suara napas melemah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum.

Sedangkan limfadenitis yang disebabkan oleh M.tuberculosis dapat menyebabkan pembesaran kelenjar limfe dalam beberapa minggu atau bulan dan selalu disertai nyeri tekan pada nodul yang bersangkutan. Lesi umumnya terletak di sekitar perjalanan vena jugularis, belakang leher ataupun di daerah supra clavicula.

B. PEMERIKSAAN RADIOLOGIK

Pemeriksaan rutin adalah foto toraks PA. Pemeriksaan atas indikasi seperti foto apikolordotik, oblik, CT Scan. Tuberkulosis memberikan gambaran bermacam-macam pada foto toraks. Gambaran radiologik yang ditemukan dapat berupa:
1. Bayangan lesi di lapangan atas paru atau segmen apikal lobus bawah
2. Bayangan berawan atau berbercak
3. Adanya kavitas tunggal atau ganda
4. Bayangan bercak milier
5. Bayangan efusi pleura, umumnya unilateral
6. Destroyed lobe sampai destroyed lung
7. Kalsifikasi
8. Schwarte.

Berdasarkan luasnya proses yang tampak pada foto toraks dapat dibagi sebagai berikut:

1. Lesi minimal (minimal lesion)
Bila proses tuberkulosis paru mengenai sebagian kecil dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dengan volume paru yang terletak diatas chondrosternal junction dari iga kedua dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis IV atau korpus vertebra torakalis V dan tidak dijumpai kavitas.

2. Lesi sedang (moderately advanced lesion):
Bila proses penyakit lebih luas dari lesi minimal dan dapat menyebar dengan densitas sedang, tetapi luas proses tidak boleh lebih luas dari satu paru, atau jumlah dari seluruh proses yang ada paling banyak seluas satu paru atau bila proses tuberkulosis tadi mempunyai densitas lebih padat, lebih tebal maka proses tersebut tidak boleh lebih dari sepertiga pada satu paru dan proses ini dapat / tidak disertai kavitas. Bila disertai kavitas maka luas (diameter) semua kavitas tidak boleh lebih dari 4 cm.

3. Lesi luas (far advanced)
Kelainan lebih luas dari lesi sedang.

C. PEMERIKSAAN LABORATORIUM

1. Pemeriksaan darah rutin

Hasil pemeriksaan darah rutin kurang spesifik untuk tuberkulosis paru. Laju endapan darah sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endapan darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfositosis juga kurang spesifik.44,45

2. Pemeriksaan bakteriologik

Untuk pemeriksaan bakteriologik ini spesimen dapat diambil dari sputum, bilasan lambung, jaringan baik lymph node atau jaringan reseksi operasi, cairan pleura, cucian lambung, cairan serebrospinalis, pus / aspirasi abses, urine, apusan laring.

a. Pemeriksaan mikroskopik biasa
Pada pemeriksaan ini dapat dilihat adanya basil tahan asam. Dibutuhkan paling sedikit 5000 batang kuman per cc sputum untuk mendapatkan kepositifan. Pewarnaan yang umum dipakai adalah pewarnaan Ziehl Nielsen dan pewarnaan Kinyoun-Gabbett. Cara pengambilan sputum tiga kali (3 X) dengan cara;
- Spot (sputum saat kunjungan pertama)
- Sputum pagi (keesokan harinya)
- Spot (pada saat mengantarkan sputum pagi pada hari kedua).

Untuk penilaian terlihat pada tabel berikut:
Tabel 1. Penilaian Sputum BTA

b. Pemeriksaan mikroskopik fluorescens
Dengan mikroskop fluorescens ini gambaran basil tahan asam yang terlihat lebih besar dan lebih jelas karena daya pandang diperluas dan adanya fluorescens dari zat warna auramin-rhodamin.

c. Kultur atau biakan kuman
Pada pemeriksaan kultur ini dibutuhkan paling sedikit 10 kuman tuberkulosis yang hidup. Jenis-jenis pemeriksaan kultur sputum ini antara lain:
- Metode konvensional seperti Lowenstein-Jensen, Ogawa, Kudoh, Middlebrook 7H-10 dan 7H-11.
- Metode Radiometrik seperti BACTEC. Dengan teknik ini waktu yang dibutuhkan untuk isolasi dan identifikasi mikobakterium tuberkulosis menjadi tiga minggu saja. Untuk test sensitifitas ditambah 5-7 hari lagi.

3. Pemeriksaan sitologi pada tuberkulosis kelenjar

Pemeriksaan biopsi aspirasi untuk diagnosis penyakit ini adalah aman, mudah dan murah untuk dikerjakan meskipun pasiennya anak-anak.

Secara makroskopi nodul mula-mula berisi zat yang berwarnah abu-abu dan jernih tapi lama kelamaan warnah bisa berubah menjadi kekuningan seperti keju. Penglihatan di bawah mikroskop terhadap sekret tampak tuberkel-tuberkel yang khas dengan sel Datia langhans. Jika terjadi perkejuan yang lama dan meluas maka struktur kelenjar dapat hilang sama sekali dan digantikan dengan struktur yang atipik. Pada peroses penyembuhan dapat terjadi fibrosis dan pengapuran. Bahayanya dari penyakit ini ialah meskipun kelihatannya penyakit sudah tenang akan tetapi terkadang ia dapat menyebar ke tempat lain seperti tulang, perut dan lain-lain. Dengan ditemukannya sel epiteloid, datia langhans ataupun massa nekrosis perkejuan maka pemeriksaan sitologi dikatakan positif.

4. Immunologi/Serologi

a. Uji Tuberkulin
Di Indonesia dengan prevalensi TB yang tinggi pemeriksaan ini kurang berarti apalagi pada orang dewasa. Uji ini akan bermakna jika didapatkan konversi dari uji yang sebelumnya atau apabila kepositifan dari uji yang didapat besar sekali atau timbul bulla. Tes tuberkulin berguna dalam menentukan diagnosis penderita (terutama pada anak-anak yang mempunyai kontak dengan seorang penderita tuberkulosis yang menular), namun penderita tersebut harus diperiksa oleh dokter yang berpengalaman. Uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling bermanfaat untuk menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan sering digunakan dalam "Screening TBC ". Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 90%. Uji tuberkulin dibaca setelah 48-72 jam (saat ini dianjurkan 72 jam) setelah penyuntikan. Indurasi diperiksa dengan cara palpasi untuk menentukan tepi indurasi, ditandai dengan
alat tulis, kemudian diukur dengan alat pengukur transparan, diameter transversal indurasi yang terjadi dan dinyatakan hasilnya dalam milimeter. Jika tidak timbul indurasi sama sekali hasilnya dilaporkan sebagai 0 mm.
b. ELISA (Enzyme Linked Immmunosorbent Assay)
Merupakan test serologi yang dapat mendeteksi respons humoral berupa proses antigen-antibodi yang terjadi. Dengan cara ini maka dapat ditentukan kadar antibodi terhadap basil tuberkulosis pada serum penderita. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa IgG saja yang memberikan kenaikan diatas normal secara bermakna. Sayangnya uji serologis ini hanya memberikan sensitifitas yang sedang saja (62%)

Pada penelitian untuk menetapkan diagnosis pasien sebagai penderita tuberkulosis paru ditetapkan berdasarkan gambaran klinis, bakteriologik dan radiologik. Dikatakan menderita tuberkulosis jika didapatkan salah satu dari berikut ini:
1. Klinis (+), bakteriologik (+), radiologik (+)
2. Klinis (+), bakteriologik (-), radiologik (+)


ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Penularan dan Penyebaran, dan Patogenesis Tuberkulosis (TBC)


PENULARAN DAN PENYEBARAN TUBERKULOSIS

Tuberkulosis ditularkan melalui udara oleh partikel kecil yang berisi kuman tuberkulosis yang disebut �droplet nukleus�. Droplet nukleus yang berukuran 1-5 �m dapat sampai ke alveoli. Droplet nukleus kecil yang berisi basil tunggal lebih berbahaya daripada sejumlah besar basil didalam partikel yang besar, sebab partikel besar akan cenderung menumpuk dijalan napas daripada sampai ke alveoli sehingga akan dikeluarkan dari paru oleh sistem mukosilier.

Batuk merupakan mekanisme yang paling efektif untuk menghasilkan droplet nukleus. Satu kali batuk yang cepat dan kuat akan menghasilkan partikel infeksius sama banyaknya dengan berbicara keras selama lima menit. Penyebaran melalui udara juga dapat disebabkan oleh manuver ekspirasi yang kuat seperti bersin, berteriak, bernyanyi.

Satu kali bersin dapat menghasilkan 20.000�40.000 droplet, tapi kebanyakan merupakan partikel yang besar sehingga tidak infeksius. Pasien yang batuk lebih dari 48 kali/malam akan menginfeksi 48% dari orang yang kontak dengan pasien. Sementara pasien yang batuk kurang dari 12 kali/malam menginfeksi 28% dari kontaknya.

Basil tuberkulosis dapat juga memasuki tubuh melalui traktus gastrointestinal ketika minum susu yang mengandung Mikobakterium tuberkulosis. Jalan masuk lain kedalam tubuh manusia adalah melalui luka pada kulit atau membran mukosa, tetapi penyebaran dengan cara ini sangat jarang. Jika fokus tuberkulosis telah terbentuk pada satu bagian tubuh maka penyakit dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain melalui pembuluh darah, saluran limfatik, kontak langsung, saluran cerna (sering dari intestinum kembali ke darah melalui duktus torasikus) dan terakhir yang paling sering melalui jalan napas.

Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.

PATOGENESIS TUBERKULOSIS

Tuberkulosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh cell mediated immune response. Sel efektornya adalah makrofag, sedang limfosit (biasanya sel T) merupakan immunoresponse cell.

Inhalasi partikel besar yang berisi lebih dari tiga basil tuberkulosis tidak akan sampai ke alveoli, partikel akan melekat di dinding bronkus dan akan dikeluarkan oleh sistem mukosiliari, tetapi inhalasi partikel kecil yang berisi 1-3 basil dapat sampai ke alveoli.

Basil tuberkulosis yang menginfeksi paru dalam 6 � 8 minggu akan menimbulkan gejala karena telah mengaktifasi limfosit T helper CD 4 (cluster diffrentiated) agar memproduksi interferon gamma guna aktifasi makrofag sehingga meningkatkan kemampuan fagositosisnya. Disamping itu juga diproduksi TNF (tumor necrotizing factor) oleh limfosit T dan makrofag dimana TNF berperan dalam aktifasi makrofag dan inflamasi lokal.

Basil tuberkulosis yang masuk ke alveoli akan diikuti oleh vasodilatasi dan masuknya leukosit polimorponuklear dan makrofag yang berfungsi untuk memakan dan membunuh basil tersebut. Setelah beberapa hari maka leukosit berkurang dan makrofag jadi dominan. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut yang disebut dengan focus primer atau Ghon focus yang merupakan infeksi primer. Infeksi primer ini dapat sembuh dengan atau tanpa bekas atau dapat berlanjut terus dan bakteri terus di fagosit atau berkembang biak didalam sel. Basil dapat menyebar melalui kelenjar getah bening menuju kelenjar getah bening regional. Gabungan terserangnya kelenjar getah bening dengan fokus primer disebut kompleks ghon. Infeksi primer kadang-kadang berlanjut terus dan perubahan patologisnya bersamaan seperti TB post primer.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Sejarah, Epidemiologi, dan Etiologi Tuberkulosis (TBC)


SEJARAH TUBERKULOSIS

Tuberkulosis adalah penyakit yang diderita manusia sama tuanya dengan sejarah manusia. Penemuan lesi pada tulang-tulang belakang mummi yang sesuai dengan TB ditemukan di Heidelberg, diduga berasal dari tahun 5000 SM. Demikian juga halnya di Italia diduga berasal dari tahun 4000 SM. Keadaan ini juga dijumpai di Denmark dan lembah Jordan. Di Mesir juga ditemukan lukisan-lukisan pada dinding berupa bentuk kelainan tulang belakang yang sesuai dengan penemuan TB spinal pada mummi. Di Indonesia catatan paling tua dari penyakit ini adalah seperti didapatkan pada salah satu relief di candi Borobudur yang
tampaknya menggambarkan kasus tuberkulosis.

Hipokrates juga mendeskripsikan tentang penyakit ini dan menyebutnya �Pthisis�. Akhirnya pada tahun 1882 Robert Koch menemukan basil tuberkulosis sebagai penyebabnya dan hasil penemuannya dipresentasikan pada tanggal 24 Maret 1882 di Berlin. Hal ini di peringati sebagai hari TB sedunia (TB Day).

EPIDEMIOLOGI TUBERKULOSIS

Setiap tahunnya sekitar 4 juta penderita baru tuberkulosis paru menular di dunia, ditambah lagi dengan penderita yang tidak menular. Artinya setiap tahun di dunia ini akan ada sekitar 8 juta penderita tuberkulosis paru, dan akan ada sekitar 3 juta orang meninggal oleh karena penyakit ini. Ditahun 1990 tercatat ada lebih dari 45 juta kematian di dunia karena berbagai sebab, dimana 3 juta diantaranya (7%) terjadi karena kasus tuberkulosis. Selain itu 25% dari seluruh kematian yang sebenarnya dapat dicegah terjadi akibat tuberkulosis. Tahun 1990 dikawasan Asia Tenggara telah muncul 3.1 juta penderita baru tuberkulosis dan terjadi lebih dari satu juta kematian akibat penyakit ini. Pada tahun 2005 di Asia Tenggara ada lebih dari 8,8 juta penderita baru tuberkulosis dan lebih dari 1,6 juta kematian.

ETIOLOGI TUBERKULOSIS

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh infeksi kuman (basil) Mikobakterium tuberkulosis. Sebagian besar basil tuberkulosis menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang organ tubuh lain.

Organisme ini termasuk ordo Actinomycetalis, familia Mycobacteriaceae dan genus Mycobacterium. Genus Mycobacterium memiliki beberapa spesies diantaranya Mycobacterium tuberculosis yang menyebabkan infeksi pada manusia. Basil tuberkulosis berbentuk batang ramping lurus, tapi kadang-kadang agak melengkung, dengan ukuran panjang 2�m-4�m dan lebar 0,2�m�0,5�m. Organisme ini tidak bergerak, tidak membentuk spora, dan tidak berkapsul, bila diwarnai akan terlihat berbentuk manik-manik atau granuler. Kuman ini bersifat obligat aerob dan pertumbuhannya lambat. Dibutuhkan waktu 18 jam untuk mengganda dan pertumbuhan pada media kultur biasa dapat dilihat dalam waktu 6-8 minggu.

Suhu optimal untuk untuk tumbuh pada 37 derajat Celcius dan pH 6,4�7,0. Jika dipanaskan pada suhu 60 derajat Celcius akan mati dalam waktu 15-20 menit. Kuman ini sangat rentan terhadap sinar matahari dan radiasi sinar ultraviolet. Di samping itu organisme ini agak resisten terhadap bahan-bahan kimia dan tahan terhadap pengeringan, sehingga memungkinkan untuk tetap hidup dalam periode yang panjang didalam ruangan-ruangan, selimut dan kain yang ada di kamar tidur, sputum. Dinding selnya 60% terdiri dari kompleks lemak seperti mycolic acid yang menyebabkan kuman bersifat tahan asam, cord factor merupakan mikosida yang berhubungan dengan virulansi. Kuman yang virulen mempunyai bentuk khas yang disebut serpentine cord, Wax D yang berperan dalam immunogenitas dan phospatides yang berperan dalam proses nekrosis kaseosa.

Basil tuberkulosis sulit untuk diwarnai tapi sekali diwarnai ia akan mengikat zat warna dengan kuat yang tidak dapat dilepaskan dengan larutan asam alkohol seperti perwarnaan Ziehl Nielsen. Organisme seperti ini di sebut tahan asam. Basil tuberkulosis juga dapat diwarnai dengan pewarnaan fluoresens seperti pewarnaan auramin rhodamin.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Pencegahan AIDS

Penyakit AIDS adalah penyakit yang sudah pasti akan mendatangkan kematian maka pencegahan merupakan upaya penanggulangan yang terutama harus di lakukan. Upaya pencegahan yang dapat di lakukan adalah:

1. Pencegahan penularan melalui jalur non seksual:
a. Transfusi darah cara ini dapat dicegah dengan mengadakan pemeriksaan donor darah sehingga darah yang bebas HIV saja yang ditransfusikan.
b. Penularan AIDS melalui jarum suntik oleh dokter paramedis dapat dicegah dengan  upaya sterilisasi yang baku atau menggunakan jarum suntik sekali pakai.

2. Pencegahan penularan melalui jalur seksual
Penularan ini dapat dilakukan dengan pendidikan/penyuluhan yang intensif yang ditujukan pada perubahan cara hidup dan perilaku seksual, karena pada hakekatnya setiap individu secara potensial adalah pelaku seks. Potensi ini mencapai puncaknya pada usia remaja dan membutuhkan penyaluran sampai seseorang mencapai usia tua.  Adanya salah informasi dalam kehidupan remaja yang beranggapan bahwa masturbasi lebih berdosa dibanding dengan senggama sehingga banyak remaja yang terjerumus untuk menyalurkan hasrat seksualnya kepada wanita tunasusila, sehingga  merelakan rawan tertular AIDS. Untuk menanggulanginya harus dilakukan penyuluhan untuk memberikan informasi yang benar mengenai AIDS. Selain itu upaya pencegahan yang dapat dilakukan dengan mengurangi pasangan seksual, monogami, menghindari hubungan seksual dengan WTS, tidak melakukan hubungan seksual dengan penderita atau yang diduga menderita AIDS dan meninggalkan penggunaan kondom.

3. Pencegahan penularan dari ibu dan anak
Upaya pencegahan yang dapat di lakukan pada penularan ini adalah dengan menganjurkan kepada ibu yang menderita AIDS atau HIV positif untukk tidak hamil.

Tindakan nyata yang dapat dilakukan dalam pencegahan AIDS antara lain:

a. Menghindari dan mencegah penyebaran AIDS pada diri sendiri, keluarga dan kelompok umurnya.
b. Melakukan tindakan pengamanan  untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya terhadap kemungkinan terkontaminasi HIV.
c. Berperilaku yang bertanggung jawab dengan:
- Tidak melakukan hubungan seksual pra nikah
- Tidak melakukan  hubungan seksual dengan kelompok resiko tinggi tertular AIDS (WTS)
- Tidak menggunakan jarum suntik bersama atau bergantian
- Tidak melanggar norma-norma agama, budaya yang berlaku di masyarakat
- Tidak menggunakan obat terlarang atau narkotik

Upaya penanggulangan AIDS yang dapat dilakukan di Indonesia saat ini antara lain adalah dengan  berdirinya II Yayasan AIDS Indonesia II yang berdiri dengan akte notaris bertanggal 17 Agustus  1993, karena kini diperkirakan 20.00 orang di Indonesia terkena virus HIV. 5


Kini dengan adanya  yayasan ini Jakarta telah menambah jalur informasi tentang AIDS setelah bulan Februari lalu dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusummo, Fakultas kedokteran UI meresmikan Pusat Informasi Penyakit AIDS.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO 

Epidemiologi AIDS

AGENT
 
Virus HIV termasuk Netrovirus yang sangat mudah mengalami mutasi sehingga sulit untuk  menemukan obat yang dapat membunuh, virus tersebut. Daya penularan  pengidap HIV tergantung pada sejumlah virus yang ada di dalam darahnya, semakin tinggi/semakin banyak virus dalam darahnya semakin tinggi daya penularannya  sehingga penyakitnya juga semakin parah. Virus HIV atau virus AIDS, sebagaimana Virus lainnya sebenarnya sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh.

Virus akan mati bila dipanaskan sampai temperatur 60� selama 30 menit, dan lebih cepat dengan mendidihkan air. Seperti kebanyakan virus lain, virus AIDS ini dapat dihancurkan dengan detergen yang dikonsentrasikan dan dapat dinonaktifkan dengan radiasi yang digunakan untuk mensterilkan peralatan medis atau peralatan lain.

HOST

Distribusi penderita AIDS di Amerika  Serikat Eropa dan Afrika tidak jauh berbeda  kelompok terbesar berada pada umur 30 -39 tahun. Hal ini membuktikan bahwa transmisi seksual baik homoseksual mapupun heteroseksual merupakan pola transmisi utama. Mengingat masa inkubasi AIDS yang berkisar dari 5 tahun ke atas maka infeksi terbesar terjadi pada kelompok umur muda/seksual paling aktif yaitu 20-30 tahun. Pada tahun 2000 diperkirakan Virus AIDS menular pada 110 juta orang dewasa dan 110 juta anak-anak. Hampir 50% dari 110 juta orang itu adalah remaja dan dewasa muda usia 13 -25 tahun. Informasi yang  diperoleh dari Pusat AIDS International fakultas Kesehatan Masyarakatat Universitas Harvard, Amerika Serikat sejumlah orang yang  terinfeksi virus AIDS yang telah berkembang secara penuh akan meningkat 10 kali lipat.
 
ENVIRONMENT

Lingkungan biologis sosial, ekonomi, budaya dan agama sangat menentukan penyebaran AIDS. Lingkungan biologis adanya riwata ulkus genitalis, Herpes Simpleks dan STS (Serum Test for Sypphilis) yang positip akan meningkatkan prevalensi HIV karena luka-luka ini menjadi  tempat masuknya HIV. Faktor biologis lainnya adalah penggunaan obat  KB. Pada  para WTS di Nairobi  terbukti bahwa kelompok yang menggunakan obat KB mempunyai prevalensi HIV lebih tinggi. Faktor sosial, ekonomi, budaya dan agama secara bersama-sama atau sendiri-sendiri sangat berpengaruh  terhadap perilaku seksual  masyarakat. Bila semua faktor ini menimbulkan permissiveness di kalangan kelompok seksual aktif, maka mereka sudah ke dalam keadaan promiskuitas.

PENULARAN ATAU TRANSMISI AIDS

Penularan AIDS dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu :

1. Secara Kontak Seksual
a. Ano-Genital. Cara hubungan  seksual ini merupakan perilaku seksual dengan resiko tertinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi kaum mitra seksual yang pasif
menerima ejakulasi semen dari pengidap HIV.
b. Ora-Genital. Cara hubungan ini merupakan tingkat resiko kedua, termasuk menelan semen dari mitra seksual pengidap HIV.
c. Genito-Genital atau Heteroseksual. Penularan  secara heteroseksual ini  merupakan tingkat penularan ketiga, hubungan suami istri yang mengidap HIV, resiko penularannya, berbeda-beda antara satu peneliti dengan peneliti lainnya.

2. Secara Non seksual
a. Transmisi Parental. Penggunaan jarum dan alat tusuk  lain (alat tindik, tatto) yang telah terkontaminasi, terutama pada penyalahgunaan narkotik dengan mempergunakan jarum suntik yang telah tercemar secara bersama-sama. Penularan parental lainnya, melalui transfusi darah atau pemakai produk dari donor dengan HIV positif, mengandung resiko yang sangat tinggi.
b. Transmisi Transplasental. Transmisi ini adalah penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak, mempunyai resiko sebesar 50%.

Disamping cara penularan yang telah disebutkan di atas ada transmisi yang belum terbukti, antara lain:
- ASI
- Saliva/Air liur
- Air mata
- Hubungan sosial dengan orang serumah
- Gigitan serangga

Walaupun cara-cara transmisi di atas belum  terbukti, akan tetapi karena prevalensi HIV telah demikian tinginya di Amerika Serikat, maka tetap dianjurkan:
1. Ibu yang mengidap supaya tidak menyusui bayinya.
2. Mengurangi kontaminasi saliva pada alat seduditasi pada saat berciuman dan pada anak-anak yang mengidap HIV yang menderita gangguan jiwa dan
sering digigit serangga.
3. Bagi dokter ahli mata dianjurkan  untuk lebih berhati-hati berhubungan dengan air mata pengidap HIV.

Perlu diketahui AIDS tidak menular karena:
1. Hidup serumah dengan penderita AIDS ( asal tidak mengadakan hubungan seksual)
2. Bersentuhan dengan penderita.
3. Berjabat tangan.
4. Penderita AIDS bersin atau balik di dekat kita.
5. Bersentuhan dengan pakaian atau barang lain dari bekas penderita.
6. Berciuman pipi dengan penderita.
7. Melalui alat makan dan minum.
8. Gigitan nyamuk dan serangga lainnya.
9. Bersama-sama berenang di kolam.

Dulu di negara-negara Barat, reaksi spontan masyarakat pada waktu pertama kali menghadapi penyakit AIDS ini adalah menjauhkan diri dari si penderita berusaha tidak menyentuh penderita, menggunakan obat-obat cuci hama bahkan membakar kasur atau pakaian bekas penderita. Reaksi awal yang bernada panik inilah yang terlanjur tersebar di seluruh dunia melalui media massa, sehingga kini  di banyak negara berlaku kepercayaan yang salah tentang AIDS, sementara dinegara-negara Barat sendiri sikap masyarakat sudah lebih tenang dan rasional. Sebagai arus informasi yang deras dari pers Barat tersebut, masyarakat di bagian dunia lainnya (termasuk Indonesia) terlanjur menyerap informasi yang tidak benar. Salah informasi ini pada gilirannya mengendap  menjadi semacam kepercayaan yang tidak mudah untuk dikoreksi kembali.

MASA INKUBASI DAN GEJALA KLINIS

Masa Inkubasi penyakit ini belum diketahui secara pasti. Dalam beberapa literatur di katakan bahwa melalui transfusi darah masa inkubasi kira-kira 4,5 tahun, sedangkan pada penderita homoseksual 2 -5 tahun, pada anak- anak rata � rata 21 bulan dan pada orang dewasa 60 bulan.

Dari 6700 laki -laki hokoseksual ataupun biseksual di San Francisco dilakukan studi Cohort, 36% dari infekssi HIV setelah 88 bulan menjadi penderita AIDS, sedangkan 20% sama sekali tidak ada timbul gejala AIDS. Gejala penderita AIDS dapat timbul dari ringan sampai berat, bahkan di Amerika Serikat ditemukan ratusan ribu orang yang dalam darahnya mengandung virus HIV tanpa gejala  klinis.

Ada terdapat 5 stadium penyakit AIDS, yaitu :

1. Gejala awal stadium infeksi yaitu:
a. Demam
b. Kelemahan
c. Nyeri sendi  
d. Nyeri tenggorok  
e. Pembesaran kelenjaran getah bening
f. Gejala yang menyerupai ifluenza
g. Monokleosis

2. Stadium tanpa gejala. Stadium dimana penderita nampak sehat, namun dapat  merupakan  sumber  penularan infeksi HIV.

3. Gejala stadium ARC
a. Demam lebih dari 38�C secara berkala atau terus 
b. Menurunnya berat badan lebih dari 10% dalam waktu 3 bulan
c. Pembesaran kelenjar getah bening
d. Diare mencret yang berkala atau terus menerus dalam waktu yang lama tanpa sebab yang jelas
f. Kelemahan tubuh yang menurunkan aktifitas fisik
g. Keringat malam

GEJALA AIDS


1. Gejala klinis utama yaitu terdapatnya kanker kulit yang disebut Sarkoma Kaposi (kanker pembuluh darah kapiler) juga adanya kanker kelenjar getah bening.
2. Terdapat infeksi penyakit penyerta misalnya pneomonia, pneumocystis,TBC, serta penyakit infeksi lainnya seperti teksoplasmosis.
3. Gejala gangguan susunan saraf
a. Lupa ingatan
b. Kesadaran menurun
c. Perubahan Kepribadian
d. Gejala�gejala peradangan otak atau selaput otak
e. Kelumpuhan

ACHMAD AMRULLAH
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

AIDS

Aids pertama kali di  diagnosa di As pada tahun 1981 dan sampai saat ini sudah menyerang sebagian besar negara didunia (pedemi) sehingga telah menjadi masalah international karena dalam waktu realtif singkat/ cepat terjadi peningkatan jumlah penderita dan melanda semakin banyak negara di dunia baik negara maju maupun negara berkembang termasuk Indonesia. Penyakit kelamin Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) merupakan kumpulan gejala yang disebabkan oleh otrovirus HIV yang sistem kekbalan/pertahanan tubuh sehingga menyebabkan kerusakan yang parah dan sejauh ini belum diketahui obatnya.

Upaya  pencegahan  penularan AIDS melalui hubungan  seksual memerlukan pendidikan dan penyuluhan intensif dan ditunjukan untuk mengubah perilaku seksual masyarakat tertentu sedemikian rupa sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV. Untuk menunjang keberhasilan upaya pencegahan tersebut terutam pada anak remaja atau SLTA, maka sebaiknya informasi yang benar mengenai AIDS diberikan kepada mereka. Depkes telah dianggap dalam hal ini dengan memberikan informasi yang benar mengenai AIDS, baik melaui  media cetak maupun media  lainnya masyarakat umum. Sedangkan untuk menanggulangi AIDS dari unsur host, Agen, dan Enfirenment, pemutusan transmisi tidak bisa dilakukan pada host karena belum danya vaksin dan juga pada agen belum ada obat penangkalnya.  Satu � satunya jalan adalah dengan  mengubah  environtment , yaitu dengan mengubah perilaku seksual. Kelompok seksual aktif   (15  � 45 tahun) yang merupakan kelompok terbesar pengidap HIV. Selama seksual aktif tersebut,  norma�norma mayarakat mengatur tingkah laku seksual, man yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan.


ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME

AIDS (Acquired Immuno  Deficiency  Syndrome) adalah penyakit yang menakutkan umat  manusia  karena penyakit ini akan membawa kematian sedangkan sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Penyakit ini pertama sekali timbul di Afrika, haiti dan America Serikat pada tahun 1978. Pada tahun 1979  Amerika serikat melaporkan kasus-kasus sarkoma kaposi dan penyakit- penyakit  infeksi yang jarang terjadi di Eropa. Samapi saat ini belum disadari oleh para ilmuwan bahwa kasus�kasus adalah kasus AIDS. Pada tahun 1981 Amerika Serikat melaporkan kasus�kasus sarkoma kaposi dan penyakit infeksi yang jarang terdapat dikalangan homoseksual. Hal ini menimbulkan dugaan yang kuat bahwa  transmisi penyakit ini terjadi melalui hubungan seksual. Pada tahun 1982, CD�USA (Centers for  Disease Control) Amerika Serikat untuk pertama sekali membuat definisi AIDS. Sejak saat itulah survailans AIDS dimulai. Pada tahun 1982�1983 mulai diketahui adanya  transmisi diluar jalur hubungan seksual, yaitu melalui transfusi darah, penggunaan jarum suntik secara bersama�sama oleh penyalahguna narkotik suntik.  Pada tahun ini juga Luc Montagnier dari pasteur Institut, Paris menenmukan penyebab kelainan ini adalah LAV (Lymphadenophaty Associaterd Virus).

Pada tahun 1984 diketahui  adanya transmisi heteroseksual di Afrika dan pada tahun yang sarna diketahui bahwa  HIV menyerang sel limfosit T penolong. Pada tahun ini juga Gallo dan kawan�kawan dari National Institute of Health, Bethesda, Amerika Serikat menemukan HTLV III (Human T Lymphotropic Virus type
III) sebagai sebab kelainan ini.

Pada tahun 1985 ditemukan Antigen untuk melakukan tes ELISA, pada tahun itu juga diketahui bahwa HIV juga menyerang sel otak. I Pada tahun  1986, International Commintte on Taxonomi of  Viruses, memutuskan nama penyebab penyakit AIDS adalah HIV sebagai pengganti nama LAV dan HTLV III.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNHALU 

Komplikasi, Diagnosis Laboratorium, Pengobatan, dan Pencegahan Tipus

KOMPLIKASI.

Selain pada usus, juga terjadi kelainan pada organ tubuh lainnya, kantong empedu dapat meradang, dan membesar, limpa membesar (splenomegali), hati membesar (hepatomegali) dan mengandung abses kecil-kecil (sarang nekrosisi). Disana kuman dapat berkumpul dan menetap pada penderita. Orang ini disebut carrier dan merupakan sumber penyakit, karena kemana-mana ia pergi membawa kuman penyakit, sedangkan ia dapat bebas bergaul dengan orang-orang sehat.
 
Oleh karena adanya penderita yang bersifat carrier, maka bagi pengusaha-pengusaha rumah makan ataupun dirumah tangga bila hendak menerima pembantu harus berhati-hati apakah calon pembantu tersebut  tidak merupakan seorang carrier penyakit, yaitu dengan melakukan pemeriksaan kesehatannya lebih dahulu. Komplikasi terpenting terjadi pada saat perdarahan karena adanya tukak dan perforasi dengan peritonitis dan shock dan biasanya menimbulkan kematian

DIAGNOSIS LABORATORIUM.


Ada 3 metode untuk mendiagnosis penyait demam typoid, yakni:
1. Diagnosis mikrobiologik/pembiakan kuman.
2. Diagnosis serologik.
3. Diagnosis klinik.

Metode diagnosa mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90 % penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Hasil ini menurun drastis setelah pemakaian obat antibiotika dengan hasil positif menjadi 40 %. Meskipun demikian kultur sumsum tulang memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90 % positif.

Pada minggu-minggu selanjutnya kultur darah menurun, tetapi untuk tinja dan kultur urin meningkat yaitu 85 % dan 25 % berturut-turut positif pada minggu ketiga dan keempat.  Organisme dalam tinja masih dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90 % penderita dan kira-kira 3 % penderita tetap mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinjanya untuk jangka waktu yang lama yaitu menjadi carrier kronik mengeluarkan  kuman Salmonella typhi dalam tinja seumur hidupnya dan carrier lebih banyak terjadi pada orang dewasa daripada anak-anak dan lebih sering mengenai wanita daripada laki-laki.

Diagnosis serologik tergantung pada antibody yang timbul terhadap antigen O dan H, yang dapat dideteksi dengan reaksi aglutinasi (test widan). Antibody terhadap antigen O dari group D timbul dalam minggu pertama sakit dan mencapai puncaknya pada minggu ketiga dan keempat yang akan menurun setelah 9 bulan sampai 1 tahun. Titer aglutinin 1/200 atau kenaikan titer lebih dari 4 kali berarti test Widal positif, hal ini menunjukkan infeksi akut Salmonella typhi.

PENGOBATAN 

A. Perawatan

Penderita perlu dirawat yang bertujuan untuk isolasi, observasi dan pengobatan, pasien harus tetap berbaring sampai minimal 7 hari, bebas demam atau 14 hari, keadaan ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya komplikasi perdarahan usus atau perforasi usus. Pada pasien dengan kesadaran menurun diperlukan perbahan-perubahan posisi berbaring untuk menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitas. 

B. Diet
Pada mulanya penderita diberikan  bubur saring dan kemudian bubur kasar yang bertujuan untuk menghindari komplikasi perdarahan usus dan perforasi usus. Dengan menkonsumsi makanan dalam bentuk tersebut diatas, tentu pasien kurang mau menkonsumsinya sehingga pasien mengalami penurunan keadaan umum dan gizi dan sekaligus memperlambat proses penyembuhan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan padat  secara dini, yaitu nasi, lauk pauk yang rendah sellulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan aman kepada pasien typhus abdominalis.

C. Obat-Obatan
Pemberian antibiotika yang efektif dapat mengurangi angka kematian (di Amerika angka kematian turun menjadi 1 % bahkan kurang). Antibiotika kloramfenikol masih dipakai sebagai obat standar dimana efektivitas obat-obatan lain masih dibandingkan terhadapnya. Untuk strain kuman yang sensitif terhadap kloramfenikol, antibiotika ini memberikan efek klinis paling baik dibandingkan obat lain. Perlu diketahui kloramfenikol mempunyai efek toksik terhadap sumsum tulang. Penggunaan kloramfenikol, demam akan turun rata-rata setelah 5 hari. Obat-obat lain seperti Ampysilin, amoksisilin dan trimetoprim sulfametoksasole dapat dipergunakan untuk pengobatan, dimana strain kuman penyebab telah resisten terhadap kloramfenikol, selain bahwa obat-obat tersebut kurang toksik dibandingkan kloramfenikol. Pengobatan carrier kronik selalu menjadi masalah, terutama carrier dengan batu empedu. Penderita carier tanpa batu empedu, pengobatan dapat dilakukan dengan pemberian ampisilin atau amoksisilin dan probenesit, tetapi bila disertai kolesistitis maka diperlukan pengobatan pembedahan selain antibiotika.  Imunisasi dengan vaksin monovalen kuman Salmonella typhi memberikan proteksi yang cukup baik, vaksin akan merangsang pembentukan serun terhadap antigen Vi, O dan H. Dari percobaan pada sukarelawan ternyata antibodi terhadap antigen H memberikan proteksi terhadap Salmonella typhi tetapi tidak demikian halnya antibodi Vi dan O.
 
PENCEGAHAN DAN PENGAWASAN SUMBER INFEKSI


Dengan mengetahui cara  penyebaran penyakit maka dapat dilakukan pengendalian dengan menerapkan dasar-dasar hygiene dan kesehatan masyarakat yaitu melakukan deteksi dan isolasi terhadap sumber infeksi, perlu diperhatikan faktor kebersihan lingkungan, pembuangan sampah dan clorinasi air minum, perlindungan terhadap suplai makanan dan minuman, peningkatan ekonomi dan peningkatan kebiasaan hidup sehat serta mengurangi populasi lalat (reservoir).

Memberikan pendidikan kesehatan dan pemeriksaan kesehatan (terutama pemeriksaan tinja) secara berkala terhadap penyaji makanan baik pada industri makanan maupun restoran. Selain itu yang sangat penting adalah sterilisasi pakaian, bahan dan alat-alat yang digunakan pasien dengan memberikan antiseptik, dianjurkan pula bagi pengunjung untuk mencuci tangan dengan sabun dan memberikan desinfektan pada saat mencuci pakaian.

Deteksi carrier dilakukan dengan cara test darah dan diikuti dengan pemeriksaan tinja dan urine yang dilakukan berulang-ulang.. Pasien yang cerrier positif diperlukan pengawasan yang lebih ketat yaitu denganmemberikan informasi tentang hygiene perorangan dan cara meningkatkan standar hygiene agar tidak berbahaya bagi orang lain.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HALUOLEO

Agen, Gejala-Gejala dan Distribusi Penyakit Tifus



Typhus abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan enteritis akut, oleh karena itu penyakit ini disebut juga penyakit demam enterik. Penyebabnya adalah kuman Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi   A, B dan C, selain demam enterik kuman ini dapat juga menyebabkan gastroenteritis (keracunan makanan) dan septikemia (tidak menyerang usus). Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak tertutup kemungkinan untuk orang muda/dewasa. Kuman ini terdapat didalam kotoran, urine manusia, dan juga pada makanan dan minuman yang tercemar kuman yang dibawa oleh lalat.

Dalam masyarakat penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi dalam dunia kedokteran disebut Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya kuman menyerang usus, maka usus bisa jadi luka, dan menyebabkan perdarahan, serta bisa pula terjadi kebocoran usus.

Di Indonesia, diperkirakan insiden demam enterik adalah 300  � 810 kasus per 100.000 penduduk per tahun. Menurut hasil SKRT tahun 1986 bahwa 3 % dari seluruh kematian (50.000 kematian) disebabkan oleh demam enterik. Penyakit ini meskipun sudah dinyatakan sembuh, namun penderita belum dikatakan sembuh total karena mereka masih dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain (bersifat carrier). Pada perempuan kemungkinan untuk menjadi carrier 3 kali lebih besar dibandingkan pada laki-laki.

Sumber penularan utama ialah penderita demam enterik itu sendiri dan carrier, yang mana mereka dapat mengeluarkan berjuta-juta kuman Salmonella typhi dalam tinja dan tinja inilah yang merupakan sumber pencemaran.

AGENT (KUMAN PENYEBAB)

1. Morfologi Salmonella typhosa.

Kuman berbentuk batang, tidak berspora dan tidak bersimpai tetapi mempunyai flagel feritrik (fimbrae), pada pewarnaan gram bersifat gram negatif, ukuran 2  - 4 mikrometer x 0.5 - 0.8 mikrometer dan bergerak, pada biakan agar darah koloninya besar bergaris tengah 2 sampai 3 millimeter, bulat, agak cembung, jernih, licin dan tidak menyebabkan hemolisis.

2. Fisiologi
Kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu 15  - 41 derajat Celcius (suhu pertumbuhan optimum 37 derajat Celcius) dan pH pertumbuhan 6  - 8. Pada umumnya isolat kuman Salmonella dikenal dengan sifat-sifat, gerak positif, reaksi fermentasi terhadap manitol dan sorbitol positif dan memberikan hasil negatif pada reaksi indol, laktosa, Voges Praskauer dan KCN.
Sebagian besar isolat Salmonella yang berasal dari bahan klinik menghasilkan  H2S. Samonella thypi hanya membentuk sedikit  H2S dan tidak membentuk gas pada fermentase glukosa. Pada agar SS,Endo, EMB dan MacConkey koloni kuman berbentuk bulat, kecil dan tidak berwana, pada agar Wilson Blair koloni kuman berwarna hitam berkilat logam akibat pembentukan H2S.

3. Daya tahan.
Kuman akan mati karena sinar matahari atau pada pemanasan dengan suhu 60 derajat celcius selama 15 sampai 20 menit,  juga dapat dibunuh dengan cara pasteurisasi, pendidihan dan klorinasi serta pada keadaan kering. Dapat bertahan hidup pada es, salju dan air selama 4 minggu sampai berbulan-bulan. Disamping itu dapat hidup subur pada medium yang mengandung garam metil, tahan terhadap zat warna hijau brilian dan senyawa natrium tetrationat dan natrium deoksikolat. Senyawa-senyawa ini menghambat pertumbuhan kuman koliform sehingga senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan didalam media untuk isolasi Salmonella dari tinja.

GEJALA-GEJALA

Masa tunas bervariasi antara 3 dan 4 hari. Penyakit tidak datang dengan sekaligus tetapi datangnya secara berangsur, didahului dengan sakit kepala, badan lesu, kadang-kadang disertai batuk dan sakit perut. 
Dalam minggu pertama suhu tubuh meninggi secara bertingkat seperti jenjang berangsur dari suhu normal sampai mencapai 38  � 40 derajat celcius. Suhu tubuh lebih meninggi pada sore dan malam hari dibanding dengan pagi hari. Denyut nadi terasa perlahan, jadi pada saat ini terdapat bradikardi relatif, sedangkan biasanya bila suhu tinggi pada penyakit panas lainnya maka nadi pun ikut cepat juga. Buang air besar biasanya terganggu, dan terdapat lidah putih serta kotor, tepi lidah kelihatan merah, kelihatan lidah gemetar, timbul bintik-bintik di dada dan perut pada awal penyakit selama kira-kira 5 hari pertama, kemudian tanda-tanda ini akan menghilang, dan bisa menimbulkan infeksi pada kelenjar usus halus.

Pada minggu kedua akan timbul pernanahan pada usus halus tersebut, dimana penderita kelihatan menderita sakit berat, muka kelihatan pucat, lidah kering, serta diliputi oleh lapisan lendir kental, nafsu makan berkurang, kadang-kadang ada juga penderita yang mencret (diare) disertai rasa sakit perut.

Dalam minggu ketiga gejala akan kelihatan lebih jelas lagi yaitu perut terasa sakit sekali, tidak buang air besar, denyut nadi cepat dan lemah, kesadaran menurun dan kadang-kadang sampai tidak sadar. Pada stadium ini dapat terjadi perdarahan usus, lalu disusul kematian.

Bila tidak terjadi komplikasi lebih lanjut, maka penyakit berangsur sembuh. Suhu tubuh akan menurun secara lisis yaitu dengan berangsur pada akhir minggu ketiga,  gejala-gejala lainpun akan menghilang pula. Lidah mulai kelihatan bersih. Namun begitu pada saat ini kita harus berhati-hati juga mengingat penyakit masih bisa kambuh kembali. Jadi penderita seharusnya jangan menghentikan pengobatan sebelum waktunya dan juga tidak boleh bergiat dengan tiba-tiba.

DISTRIBUSI

Penyebaran penyakit tidak ada perbedaan dimana laki-laki maupun perempuan akan mempunyai resiko untuk terkena penyakit ini. Insiden yang tertinggi terjadi pada anak-anak, sedangkan p ada orangdewasa penderita sering mengalami infeksi ringan dan biasanya sembuh sendiri yang pada akhirnya menjadi kebal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 70  � 80 % pasien berumur 12  � 30 tahun, 10 � 20 % berumur 31 � 40 tahun dan lebih sedikit pada pasien berumur diatas 40 tahun.

Typhus abdominalis terdapat diseluruh dunia dan penyebarannya sebagai penyakit menular, tidak selalu bergantung pada iklim, tetapi lebih banyak dijumpai di negara-negara berkembang dan daerah dengan iklim tropis. Di Indonesia, penyakit ini dapat ditemukan sepanjang tahun, dari hasil penelitian kemungkinan kasus ini lebih meningkat pada musim hujan, juga bisa pada musim kemarau atau pada peralihan musim kemarau kemusim hujan.   

Angka kesakitan demam tifoid di Indonesia masih tinggi berkisar antara 0,7  � 1 %. Makanan dan minuman terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi kuman Salmonella dan carrier adalah sumber infeksi. Salmonella typhi bisa berada dalam air, es, debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk ke dalam vehicle yang cocok (daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang bika mencapai dosis infektif.

ACHMAD AMRULLAH
JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT UNHALU 

Vektor Penyakit DBD


A. MORFOLOGI DAN DAUR HIDUP VEKTOR DBD

Vektor utama penyakit DBD di Indonesia adalah nyamuk A. aegypti sedangkan A. albopictus dianggap vektor potensial. Nyamuk ini mengalami metamorfosis yang sempurna mulai dari telur menetas menjadi jentik (larva), kepompong dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Telur, diletakkan menempel pada dinding bagian dalam, tempat perindukan di atas permukaan air. Jumlahnya antara 100-300 butir, ukuran 0,5 mm, hitam seperti sarang tawon, telur dapat bertahan pada suhu -2�C hingga 42 �C, lama menetas beberapa saat setelah kena air, hingga 1-2 hari setelah berada di air. Jentik terdapat di air mengalami empat stadium pertumbuhan yang ditandai dengan pergantian kulit. Pada pergantian kulit berubah menjadi kepompong, umur rata-rata pertumbuhan jentik sampai menjadi kepompong antara 7-15 hari. Kepompong terdapat dalam air, menetas dalam 1-2 hari, nyamuk jantan menetas lebih dulu dari nyamuk betina. Nyamuk jantan berumur lebih pendek daripada nyamuk betina (�1 minggu), makanannya cairan buah-buahan atau tumbuh-tumbuhan, serta terbang tidak jauh dari perindukannya. Nyamuk betina umumnya berumur lebih panjang dan perlu untuk menghisap darah untuk pertumbuhan telurnya setiap 2-3 hari. Jarak terbang aktif kurang lebih 50 meter.

B. EKOLOGI VEKTOR DBD

Eksistensi A. aegypti di alam dipengaruhi oleh lingkungan biologik dan fisik.

1. Pengaruh Lingkungan Biologik

Pada tempat perindukan/kontainer dengan air yang lama biasanya terdapat patogen dan parasit yang mempengaruhi pertumbuhan larva. Adanya infeksi patogen dan parasit pada larva mengurangi jumlah larva yang hidup untuk menjadi lebih lama dan umur nyamuk dari larva yang terinfeksi patogen dan parasit menjadi lebih pendek.

2. Pengaruh Lingkungan Fisik

Lingkungan fisik ada bermacam-macam, misalnya: tata rumah, macam kontainer, ketinggian tempat dan iklim. Jarak antar rumah mempermudah penyebaran nyamuk dari suatu rumah ke rumah lain. Macam kontainer/tempat perindukan, bahan, tempat bertelur, bentuk dan volume kontainer serta asal air pada kontainer mempengaruhi nyamuk betina dalam pemilihan tempat bertelur. Iklim adalah salah satu komponen pokok lingkungan fisik yang terdiri atas: suhu, kelembaban nisbi, curah hujan dan angin.

3. Bionomik nyamuk A. aegypti

Bionomik nyamuk merupakan kesenangan bersarang atau tempat perindukannya (breeding habit), kesenangan menggigit (feeding habit), kesenangan hinggap/bertelur/beristirahat. Adapun bionomik nyamuk antara lain:

a. Tempat perindukan
Jenis nyamuk ini mempunyai tempat perindukan pada genangan air yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti:
- Tempat penampungan air yaitu tempat-tempat untuk menampung air guna keperluan sehari-hari seperti tempayan, bak mandi, bak WC, ember dan lain-lain.
- Bahan tempat penampungan air untuk keperluan sehari-hari seperti tempat minum hewan, ban bekas dan lain-lain.
- Tempat penampungan air alami seperti lubang pohon, tempurung kelapa, kulit kerang, ruas bambu, dan pangkal pohon pisang.

b. Kebiasaan menggigit
Nyamuk A. aegypti dewasa yang betina siap untuk menghisap darah manusia sehari atau dua hari setelah keluar dari stadium pupa dan 24 jam setelah bertelur. Waktu menggigit lebih banyak pada siang hari dari pada malam hari, antara jam 08.00-12.00 dan 15.00-17.00, serta lebih banyak menggigit di dalam rumah daripada di luar rumah. A. aegypti dapat menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu singkat (multiple bitter). Keadaan ini sangat membantu dalam memindahkan virus dengue ke beberapa orang sekaligus.

c. Kebiasaan bertelur
Nyamuk A. aegypti mempunyai kebiasaan bertelur pada tempat-tempat penampungan air yang tidak langsung berhubungan dengan tanah seperti ember, kaleng bekas, serta botol-botol bekas. Nyamuk A. aegypti akan bertelur setelah menghisap darah sampai telur dikeluarkan biasanya bervariasi antara 2-4 hari, setelah pematangan telur selesai nyamuk betina akan meletakkan telurnya pada dinding bejana, sedikit di atas permukaan air. A. aegypti meletakkan telurnya secara tersebar. Kontak yang nyata dengan air adalah rangsangan pertama untuk meletakkan telurnya. Umumnya nyamuk akan meletakkan telurnya pada suhu 20-30�C, kelembaban udara praktis mempengaruhi kebiasaan peletakan telur dari nyamuk A. aegypti. Hal ini mengingat bahwa aktivitas nyamuk ditentukan oleh keadaan kelembaban udara sekitarnya.

d. Kebiasaan beristirahat
Kebiasaan beristirahat setelah menggigit dan selama menunggu waktu pematangan telur, nyamuk A. aegypti beristirahat di tempat-tempat gelap, lembab dan sedikit angin. Makanya nyamuk ini hinggap di dalam rumah pada benda-benda yang bergantungan seperti pakaian dan kelambu.

e. Jarak terbang
Penyebaran populasi jentik tidak jauh dari tempat perindukannya, tempat mencari mangsa dan tempat istirahatnya, sehingga populasi sebagai kluster dan tidak membentuk populasi homogen. Bentuk minimum kluster A. aegypti dengan diameter 100 m dikarenakan jarak terbangnya hanya 50 meter maka dengan demikian populasi nyamuk tidak hanya terlokalisir tetap juga terbagi-bagi.

4. Siklus hidup A. Aegypti

Nyamuk A. aegypti dalam siklus hidupnya mengalami metamorfosis sempurna dengan 4 stadium yaitu: telur yang menetas menjadi jentik-jentik, berubah menjadi pupa (kepompong) dan selanjutnya menjadi nyamuk dewasa. Perkembangan dari telur sampai menjadi nyamuk antara 9-10 hari.

a. Telur, setiap kali bertelur nyamuk betina dapat mengeluarkan telur sebanyak 100 butir. Telur nyamuk A. aegypti berwarna hitam dengan ukuran 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan dan akan menetas menjadi jentik dalam waktu lebih kurang 2 hari setelah terendam air.

b. Jentik, jentik kecil yang menetas dari telur itu akan tumbuh menjadi besar yang panjangnya 0,5-1 cm, selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas (mengambil udara) kemudian turun kembali ke bawah dan seterusnya. Posisi pada waktu istirahat hampir tegak lurus dengan permukaan air, biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air dan setelah 6�8 hari jentik itu akan berkembang/berubah menjadi kepompong.

c. Kepompong, merupakan bentuk akhir dari stadium kehidupan di dalam air, suhu optimum untuk perkembangan berkisar antara 27-32�C. Adapun bentuk kepompong seperti koma, gerakannya lamban, sering berada di permukaan air, setelah 1�2 hari akan berubah menjadi nyamuk baru.

d. Nyamuk dewasa, termasuk sub genus Stegoya, dengan ciri-ciri belang-belang hitam putih, pada seluruh tubuhnya. Nyamuk A. aegypti betina menghisap darah manusia setiap 2 hari. Protein darah tersebut diperlukan untuk pematangan telur yang dikandungnya. Setelah menghisap darah, nyamuk akan mencari tempat hinggap (istirahat) yang disenangi di dekat tempat berkembang biaknya biasanya di tempat yang agak gelap dan lembab. Setelah masa istirahat selesai, nyamuk itu akan meletakkan telurnya pada dinding bak mandi/WC, tempayan, drum dan lain-lain, biasanya sedikit di atas permukaan air, selanjutnya nyamuk akan mencari mangsanya (menghisap darah) lagi. Umur nyamuk A. aegypti rata-rata 2 minggu, tetapi sebagian di antaranya dapat hidup 2�3 bulan.

5. Ciri-Ciri nyamuk A. Aegypti

Depkes (1997) menyatakan bahwa nyamuk penular A. aegypti memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Nyamuk A. aegypti berwarna hitam dengan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuhnya.
b. Hidup di dalam, sekitar rumah dan ditemukan juga di tempat umum.
c. Mampu terbang sampai 100 meter
d. Nyamuk betina aktif menggigit (mengisap) darah pada pagi hari sampai sore hari. Nyamuk jantan biasa mengisap sari bunga/tumbuhan yang mengandung gula.
e. Umur nyamuk A. aegypti rata-rata 2 minggu. Tetapi sebagian diantaranya dapat hidup 2-3 bulan.

DBD (Demam Berdarah Dengue)


A. PENGERTIAN PENYAKIT DBD

Penyakit DBD adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus dengue dan terutama menyerang anak-anak dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak disertai manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan renjatan (shock) dan kematian.

Penyakit DBD adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh nyamuk A. aegypti, yang ditandai dengan demam tinggi 2-7 hari, perdarahan spontan bisa melalui hidung, gusi dan bawah kulit, nyeri ulu hati, buang air besar hitam dan terjadinya demam secara tiba-tiba.

PENYEBAB DBD

Virus dengue termasuk grup B Arthropod Borne Virus (Arbovirus) merupakan virus RNA untai tunggal, genus Flavivirus, terdiri dari 4 serotipe yaitu Den-1, 2, 3 dan 4. Termasuk famili Flaviviridae, yang berukuran kecil sekali yaitu 35-45 m. Struktur antigen ke- 4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibodi terhadap masing-masing serotipe tidak dapat saling memberikan perlindungan silang. Variasi genetik yang berbeda pada ke- 4 serotipe ini tidak hanya menyangkut antar serotipe, tetapi juga di dalam serotipe itu sendiri tergantung waktu dan daerah penyebarannya. Pada masing-masing segmen codon, variasi diantara serotipe dapat mencapai 2,6-11,0% pada tingkat nukleotida dan 1,3-7,7% untuk tingkat protein. Perbedaan urutan nukleotida ini ternyata menyebabkan variasi dalam sifat biologik dan antigenitasnya.

Virus dengue yang genomnya mempunyai berat molekul 11 Kb tersusun dari protein struktural dan non-struktural. Protein struktural yang terdiri dari protein envelope (E), protein pre-membran (prM) dan protein core (C) merupakan 25% dari total protein, sedangkan protein non-struktural merupakan bagian yang terbesar (75%) terdiri dari NS-1 sampai dengan NS-5. Dalam merangsang pembentukan antibodi diantara protein struktural, urutan imunogenitas tertinggi adalah protein E, kemudian diikuti protein prM dan C. Sedangkan pada protein non-struktural yang paling berperan adalah protein NS-1.

DHF sinonim dengan penyakit DBD. Sesuai dengan penyebabnya adalah virus dengue dan sampai saat ini terdapat 4 jenis (tipe) yang diistilahkan D1, D2, D3 dan D4 (Yatim F, 2004). Selain itu virus dengue termasuk dalam group B Arthropod Borne Viruses (Arbovirosis), keempat tipe virus ini telah ditemukan di berbagai daerah di Indonesia dan bersifat termolabil yang disimpan lama dalam keadaan beku sampai -70�C. Darah penderita yang disimpan lama pada suhu 50�C masih mempunyai peluang untuk menular dalam beberapa hari. Penelitian di Indonesia menunjukkan dengue tipe 3 merupakan serotipe virus yang dominan yang menyebabkan kasus yang berat.

RESERVOIR

Virus dengue mampu berkembang biak dalam tubuh manusia, binatang seperti monyet, simpanse, kelinci, marmut, mencit, tikus dan juga hamster serta serangga khususnya nyamuk. Binatang primata merupakan hospes alami virus. Viremia yang timbul biasanya lebih rendah dan lebih pendek masanya, pada manusia masa viremia 2-12 hari. Virus berkembang biak pada nyamuk dari genus Aedes. A. aegypti dan Aedes albopictus merupakan dua genus yang paling penting karena luasnya penyebaran nyamuk dan efisiensinya sebagai vektor.

DBD merupakan penyakit tropis dan virus penyebabnya bertahan dalam suatu siklus yang melibatkan manusia dan A. aegypti. A. aegypti adalah sejenis nyamuk rumah yang lebih senang menggigit manusia di siang hari. Dengue ditularkan oleh nyamuk A. aegypti betina, yang lebih menyukai untuk menyimpan telurnya di dalam wadah yang berisi air bersih dan terletak di sekitar habitat manusia.

PATOGENESIS DBD

Patogenesis DBD dan Dengue Shock Syndrome (DSS) masih merupakan masalah yang kontroversi. Dua teori yang umum dipakai dalam menjelaskan perubahan patogenesis pada DBD dan DSS yaitu teori Infeksi Sekunder (Secondary Heterologous Infection Theory) yang menyatakan bahwa secara tidak langsung pasien yang mengalami infeksi kedua kalinya dengan virus dengue serotipe yang heterolog, mempunyai risiko lebih besar untuk kemungkinan mendapatkkan DBD/DSS. Teori kedua menyatakan bahwa virus dengue seperti halnya semua virus binatang yang lain, secara genetik dapat berubah sebagai akibat dari tekanan pada seleksi sewaktu virus melakukan replikasi pada tubuh manusia maupun nyamuk. Disamping itu, terdapat beberapa strain virus yang mempunyai kemampuan untuk menimbulkan wabah lebih besar.

Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan patofisiologis yang mencolok, yaitu:

a. Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya plasma, hipovolemia dan terjadinya shock. Pada DBD terdapat kejadian unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).
b. Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni dan koagulopati, mendahului terjadinya perdarahan.

MANIFESTASI KLINIS DBD

Manifestasi klinis infeksi virus dengue pada manusia sangat bervariasi. Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang tidak spesifik, demam dengue, DBD hingga yang paling berat yaitu DSS. Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997, terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).

KRITERIA KLINIS DBD

Indikator penting DBD/SSD yang ditemukan melalui pengamatan klinis adalah:

a. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama 1-7 hari.

b. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan:
- Uji tourniquet positif
- Petekia, ekimosis, purpura
- Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
- Hematemesis dan atau melena
- Hematuria
- Pembesaran hati (hepatomegali).
- Manifestasi shocklreniatan

Kriteria Laboratoris:
1. Trombositopeni (trombosit <100.000ml)
2. Hemokonsentrasi (kenaikan Ht > 20%)

Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4 derajat, yaitu:

Derajat I : Demam disertai gejala-gejala umum yang tidak khas dan manifestasi perdarahan spontan satu-satunya adalah uji tourniquet positif

Derajat II : Gejala-gejala derajat 1, disertai gejala-gejala perdarahan kulit spontan atau manifestasi perdarahan yang lebih berat

Derajat III : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menyempit (<20 mmHg), hipotensi, sianosis di sekitar mulut, kulit dingin dan lembab serta gelisah Derajat IV : Shock berat (profound shock), nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak terukur.

PENULARAN DBD

Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi dengue yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk A. aegypti. Nyamuk tersebut dapat menularkan kepada manusia baik secara langsung yaitu setelah orang yang sedang mengalami viremia maupun secara tidak langsung setelah melalui masa inkubasi dalam tubuhnya selama 8-10 hari. Pada manusia diperlukan waktu 4-6 hari untuk menjadi sakit setelah virus berkembang biak di dalam tubuhnya. Pada nyamuk, sekali virus ini dapat masuk berkembang biak di dalam tubuh nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya (infeksi) sedangkan pada manusia, penularan hanya dapat terjadi pada saat tubuh dalam keadaan viremia yaitu antara 5-7 hari.

Secara epidemiologi, penularan DBD terjadi karena adanya interaksi antara host (manusia dan nyamuk penular), agent (virus) dan kondisi lingkungan yaitu:

a. Faktor manusia
Faktor manusia yang berhubungan dengan penularan DBD antara lain adalah: umur, suku, bangsa/ras, kerentanan, keadaan sosial ekonomi, kepadatan penduduk dan mobilitas penduduk.

b. Faktor nyamuk penular
Nyamuk dewasa A. aegypti sebagai vektor utama DBD cenderung menggigit orang yang sedang beristrahat di dalam rumah. Tempat hidup yang lebih disukai oleh nyamuk ini adalah benda-benda dalam ruangan seperti pakaian tergantung dan horden berwarna agak gelap dan ruangan yang relatif lembab dengan intensitas cahaya rendah. Nyamuk ini menggigit orang pada siang hari dengan puncak gigitan di pagi hari antara pukul 08-00-10.00 dan pada sore hari antara pukul 16.00-18.00, Tempat berkembang biak nyamuk A. aegypti adalah wadah air buatan manusia yang terletak di dalam rumah maupun di luar rumah seperti; bak mandi, W.C. tempayan (tanah liat), drum, vas bunga, perangkap semut pada kaki meja makan, dan kaleng bekas yang menampung air hujan.

c. Faktor lingkungan
Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk A. aegypti antara lain kualitas permukaan, jarak antar rumah, pencahayaan, bentuk rumah, ketinggian tempat, curah hujan, iklim, temperatur, kepadatan nyamuk dan karakteristiknya.

MASA INKUBASI DBD

Masa inkubasi penyakit DBD berkisar antara 3-15 hari tetapi pada umumnya 5-8 hari. Dimulai dengan demam tinggi yang tiba-tiba, menggigil, sakit yang menyeluruh pada otot, sendi dan punggung. Masa kritis mulai menurun pada hari ke-5 atau ke-6 sesudah demam. Pada hari ke-3 atau hari ke-5 timbul bercak merah, pertama pada dada, pinggul, dan perut kemudian menyebar ke lengan, kaki dan muka. Penyakit DBD merupakan salah satu penyakit akut yang ditandai dengan panas mendadak selama 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas disertai perdarahan dan kesadaran menurun.

Berdasarkan standar WHO 1997, sedikitnya ada empat gejala yang menandai kejangkitan demam berdarah. Pertama, ada gejala demam cukup tinggi bahkan mencapai 40�C terjadi secara mendadak dan berlangsung antara 2-7 hari. Kedua, mudah berdarah, mulai paling ringan seperti penampakan berupa bintik-bintik darah setelah dilakukan tes hingga perdarahan hebat seperti batuk darah, mimisan hingga perdarahan di gusi. Gejala ketiga adalah jika dilakukan pemeriksaan darah, trombosit rendah. Sementara itu, gejala keempat adalah terjadi kebocoran pembuluh darah dan merembes ke mana-mana sehingga bisa menyebabkan shok.
 

AbheLink Black or White ? Copyright © 2011-2012 | Powered by Blogger